<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><?xml-stylesheet type="text/xsl" href="https://blog.id.jobplanet.com/wp-content/plugins/xslt/template.xsl"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>milenial &#8211; Jobplanet Blog</title>
	<atom:link href="http://blog.id.jobplanet.com/tag/milenial/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://blog.id.jobplanet.com</link>
	<description>Info Gaji, Review Perusahaan dan Interview</description>
	<lastBuildDate>Wed, 20 Dec 2017 08:00:30 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=4.9.29</generator>

<image>
	<url>http://blog.id.jobplanet.com/wp-content/uploads/2017/03/cropped-icon-logo-32x32.png</url>
	<title>milenial &#8211; Jobplanet Blog</title>
	<link>https://blog.id.jobplanet.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Untung dan Rugi Menjadi Kutu Loncat</title>
		<link>https://blog.id.jobplanet.com/untung-dan-rugi-menjadi-kutu-loncat/</link>
		<pubDate>Tue, 15 Aug 2017 03:00:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Jobplanet]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[advertising agency]]></category>
		<category><![CDATA[agency]]></category>
		<category><![CDATA[alasan resign]]></category>
		<category><![CDATA[BUMN]]></category>
		<category><![CDATA[ciri-ciri milenial]]></category>
		<category><![CDATA[karyawan milenial]]></category>
		<category><![CDATA[kutu loncat]]></category>
		<category><![CDATA[magang]]></category>
		<category><![CDATA[magang di bumn]]></category>
		<category><![CDATA[milenial]]></category>
		<category><![CDATA[pertanyaan wawancara]]></category>
		<category><![CDATA[tips karir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.id.jobplanet.com/?p=4477</guid>
		<description><![CDATA[<p> Artikel ini juga dapat dibaca di  . ‘Kutu loncat’ merupakan sebutan yang cukup lekat dengan generasi milenial. Kabarnya, kepribadian dan pola pikir yang berbeda membuat mereka cenderung senang berpindah-pindah dari satu perusahaan ke perusahaan lain. Kebiasaan ini memang tak selamanya buruk, melainkan tergantung dari alasan atau motivasi si karyawan. Akan tetapi, selalu ada sisi positif [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://blog.id.jobplanet.com/untung-dan-rugi-menjadi-kutu-loncat/">Untung dan Rugi Menjadi Kutu Loncat</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://blog.id.jobplanet.com">Jobplanet Blog</a>.</p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter size-full wp-image-4481" src="http://blog.id.jobplanet.com/wp-content/uploads/2017/08/blog_landscape_15082017-design.jpg" alt="Untung dan Rugi Menjadi Kutu Loncat" srcset="http://blog.id.jobplanet.com/wp-content/uploads/2017/08/blog_landscape_15082017-design.jpg 700w, http://blog.id.jobplanet.com/wp-content/uploads/2017/08/blog_landscape_15082017-design-300x157.jpg 300w" sizes="(max-width: 700px) 100vw, 700px" /></p>
<table style="height: 75px;" width="566">
<tbody>
<tr>
<td style="text-align: left;" width="163"> Artikel ini juga dapat dibaca di  <a href="http://beritagar.id" target="_blank" rel="noopener noreferrer"><img class="alignnone wp-image-2408" src="http://blog.id.jobplanet.com/wp-content/uploads/2015/12/Beritagar-logo-300x57.jpg" alt="beritagar-logo" width="100" height="19" srcset="http://blog.id.jobplanet.com/wp-content/uploads/2015/12/Beritagar-logo-300x57.jpg 300w, http://blog.id.jobplanet.com/wp-content/uploads/2015/12/Beritagar-logo-768x146.jpg 768w, http://blog.id.jobplanet.com/wp-content/uploads/2015/12/Beritagar-logo-1024x195.jpg 1024w" sizes="(max-width: 100px) 100vw, 100px" /></a>.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>‘Kutu loncat’ merupakan sebutan yang cukup lekat dengan <strong><a href="http://blog.id.jobplanet.com/riset-jobplanet-ungkap-kepuasan-karyawan-milenial-terhadap-pekerjaan-mereka/" target="_blank" rel="noopener noreferrer">generasi milenial</a></strong>. Kabarnya, kepribadian dan pola pikir yang berbeda membuat mereka cenderung senang berpindah-pindah dari satu perusahaan ke perusahaan lain. Kebiasaan ini memang tak selamanya buruk, melainkan tergantung dari alasan atau motivasi si karyawan. Akan tetapi<em>, </em>selalu ada sisi positif dan negatif alias untung dan rugi dari kebiasaan berpindah-pindah kerja ini<em>. </em></p>
<p>Berikut keuntungan dan kerugian dari kebiasaan ‘kutu loncat’:</p>
<p><strong><u>Keuntungan</u></strong></p>
<p><strong>1. Eksplorasi diri</strong></p>
<p>Dibandingkan bertahan di satu perusahaan untuk waktu yang lama, kebiasaan berpindah-pindah kerja memungkinkan Anda untuk mengeksplorasi diri. Di awal karier, Anda mungkin mencari pekerjaan yang sesuai dengan jurusan kuliah. Namun, jika setelah dijalani ternyata <em>passion </em>Anda ada di bidang lain, sah-sah saja bila Anda lebih memilih untuk mengejar <em>passion</em> tersebut.</p>
<p>Terkadang seseorang tak pernah tahu apa yang dia inginkan sampai benar-benar menjalaninya. Jadi<em>, </em>apabila Anda terpaksa menjadi ‘kutu loncat’ karena belum menemukan pekerjaan yang cocok, setidaknya Anda jadi lebih mengenal kemampuan dan potensi diri sehingga pada akhirnya bisa menjalani pekerjaan yang tepat.</p>
<p><strong>2. Banyak relasi</strong></p>
<p>Para ‘kutu loncat’ mestinya punya banyak kenalan. Bagaimana tidak? Sebentar-sebentar mereka pindah ke lingkungan baru dan bertemu orang-orang baru. Meskipun setiap saat harus menghadapi tantangan untuk beradaptasi, namun di saat yang sama <a href="http://blog.id.jobplanet.com/4-tempat-terbaik-untuk-membangun-jaringan-sosial/" target="_blank" rel="noopener noreferrer"><strong><em>networking</em></strong></a> di lingkup profesional pun jadi semakin luas.</p>
<p>Semakin banyak relasi yang terjalin, maka semakin banyak pula keuntungan yang bisa Anda rasakan. Dengan syarat, meskipun tak lagi menjadi kolega satu perusahaan, hubungan baik harus tetap dijaga. Siapa tahu di masa yang akan datang mantan bos Anda bisa menjadi klien, sementara mantan rekan kerja jadi rekan berbisnis.</p>
<p><strong> 3. </strong><strong>Pengalaman beragam</strong></p>
<p>Seandainya Anda pernah magang di perusahaan BUMN, lalu setelah wisuda bekerja di <a href="http://blog.id.jobplanet.com/suka-duka-pekerja-kreatif-di-perusahaan-agency/" target="_blank" rel="noopener noreferrer"><strong><em>agency </em>periklanan</strong></a><em>, </em>lalu setahun kemudian pindah lagi ke perusahaan teknologi multinasional; bayangkan betapa beragamnya pengalaman yang Anda miliki.</p>
<p>Setiap perusahaan tentu memiliki budayanya masing-masing. Bertransisi dari suasana kerja BUMN yang formal dengan manajemen yang terstruktur, pindah ke lingkungan <em>agency </em>yang penuh kreativitas dan jam kerja yang tak menentu mungkin memang menimbulkan <em>culture shock. </em>Namun, pengalaman seperti ini juga yang dapat menjadikan Anda sosok yang profesional.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="https://goo.gl/49fjGs" target="_blank" rel="noopener noreferrer"><img class="aligncenter size-full wp-image-4280" src="http://blog.id.jobplanet.com/wp-content/uploads/2017/07/banner_forum_blog.jpg" alt="" srcset="http://blog.id.jobplanet.com/wp-content/uploads/2017/07/banner_forum_blog.jpg 728w, http://blog.id.jobplanet.com/wp-content/uploads/2017/07/banner_forum_blog-300x37.jpg 300w" sizes="(max-width: 728px) 100vw, 728px" /></a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><u>Kerugian</u></strong></p>
<p><strong>1.<em> Skill </em>tidak maksimal</strong></p>
<p>Ketika hendak <em>resign </em>dan pindah kerja, banyak karyawan yang beralasan ingin mencari tantangan dan menambah <em>skill </em>di tempat baru. Namun, jika baru beberapa bulan pindah sudah <em>resign </em>lagi, apakah upaya untuk menambah <em>skill </em>tersebut bisa maksimal?</p>
<p>Butuh waktu yang tidak sebentar untuk menguasai pekerjaan baru. Belum lagi di masa-masa awal ada proses adaptasi yang harus dilalui lebih dulu. Karenanya, pelamar yang menduduki posisi yang sama untuk beberapa tahun umumnya lebih dipercaya daripada mereka yang pengalamannya baru beberapa bulan.</p>
<p><strong> 2. </strong><strong>Tak pernah puas</strong></p>
<p>‘Kutu loncat’ selalu punya alasan pembenar mengapa mereka mudah berpindah-pindah kerja. Seakan-akan selalu ada saja kekurangan di setiap perusahaan yang tak semestinya terjadi. Hal ini sebenarnya cukup ironis, mengingat sampai kapan pun tak akan ada perusahaan yang sempurna.</p>
<p>Kalau Anda berkunjung ke situs <a href="https://id.jobplanet.com/reviews?utm_medium=artikel&amp;utm_campaign=untung_dan_rugi_menjadi_kutu_loncat&amp;utm_source=blog" target="_blank" rel="noopener noreferrer"><strong>Jobplanet</strong></a>, Anda akan menemukan <em>review </em>berbagai perusahaan—baik pro maupun kontra. Bahkan, di halaman perusahaan-perusahaan terbaik sekalipun, Anda tak hanya akan menemukan pengalaman kerja para karyawan yang menyenangkan saja, tapi juga hal-hal yang masih perlu ditingkatkan atau diperbaiki dari perusahaan.</p>
<p><strong>3. Loyalitas dipertanyakan</strong></p>
<p>Salah satu yang jadi kekhawatiran perusahaan ketika merekrut ‘kutu loncat’ adalah loyalitas mereka. Itulah sebabnya <a href="http://blog.id.jobplanet.com/5-alasan-paling-tepat-yang-digunakan-karyawan-untuk-resign/" target="_blank" rel="noopener noreferrer"><strong>alasan <em>resign</em></strong></a> hampir selalu menjadi pertanyaan dalam <a href="https://id.jobplanet.com/interviews/cover?utm_medium=artikel&amp;utm_campaign=untung_dan_rugi_menjadi_kutu_loncat&amp;utm_source=blog" target="_blank" rel="noopener noreferrer"><strong>wawancara kerja</strong></a>. Perusahaan tentunya tak ingin mengambil risiko dengan mempekerjakan karyawan yang hanya akan bikin repot HRD dan para senior yang membimbingnya. Selama masih ada pilihan lain, sebisa mungkin mereka menghindari kandidat yang kemungkinan besar akan meninggalkan perusahaan dalam waktu singkat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Apabila Anda salah seorang yang menunjukkan ciri-ciri ‘kutu loncat’, Anda perlu mempertimbangkan keenam hal di atas. Dengan demikian, Anda dapat mengambil keputusan dan langkah yang bijak, tanpa mengorbankan karier di masa yang akan datang.</p>
<style type="text/css">.sg-popup-overlay-2,
					.sg-popup-content-2 {
						z-index: 9999 !important;
					}
					#sg-popup-content-wrapper-2 {
						padding: 0px !important;
					}</style><script type='text/javascript'>SG_POPUP_DATA[2] ={"id":"2","title":"Apps","type":"html","effect":"No effect","0":"width","1":"656px","height":"430px","delay":5,"duration":1,"2":"initialWidth","3":"","initialHeight":"","width":"656px","escKey":"on","isActiveStatus":"on","scrolling":"on","scaling":"","reposition":"on","overlayClose":"on","reopenAfterSubmission":"","contentClick":"on","content-click-behavior":"close","click-redirect-to-url":"","redirect-to-new-tab":"","opacity":"0.8","popup-background-opacity":"1","sgOverlayColor":"","sg-content-background-color":"","popupFixed":"","fixedPostion":"","popup-dimension-mode":"responsiveMode","popup-responsive-dimension-measure":"auto","maxWidth":"","maxHeight":"","initialWidth":"","closeButton":"on","theme":"colorbox6.css","sgTheme3BorderColor":"","sgTheme3BorderRadius":"0","onScrolling":"","inActivityStatus":"","inactivity-timout":"0","beforeScrolingPrsent":0,"forMobile":"","openMobile":"","repeatPopup":"","popup-appear-number-limit":"1","save-cookie-page-level":"","autoClosePopup":"","countryStatus":"","showAllPages":"all","allPagesStatus":"","allPostsStatus":"","allCustomPostsStatus":"","allSelectedPages":"","showAllPosts":"all","showAllCustomPosts":"all","allSelectedPosts":"","allSelectedCustomPosts":"","posts-all-categories":"","all-custom-posts":"","sg-user-status":"","loggedin-user":"true","popup-timer-status":"","popup-schedule-status":"","popup-start-timer":"Mar 21 17 11:13","popup-finish-timer":"","schedule-start-weeks":"","schedule-start-time":"11:13","schedule-end-time":"","allowCountries":"","countryName":"","countryIso":"","disablePopup":"","disablePopupOverlay":"","popupClosingTimer":"","yesButtonLabel":"","noButtonLabel":"","restrictionUrl":"","yesButtonBackgroundColor":"","noButtonBackgroundColor":"","yesButtonTextColor":"","noButtonTextColor":"","yesButtonRadius":0,"noButtonRadius":0,"sgRestrictionExpirationTime":0,"restrictionCookeSavingLevel":"","pushToBottom":"","onceExpiresTime":"7","sgOverlayCustomClasss":"sg-popup-overlay","sgContentCustomClasss":"sg-popup-content","popup-z-index":"9999","theme-close-text":"Close","socialButtons":"{\u0022sgTwitterStatus\u0022:\u0022\u0022,\u0022sgFbStatus\u0022:\u0022\u0022,\u0022sgEmailStatus\u0022:\u0022\u0022,\u0022sgLinkedinStatus\u0022:\u0022\u0022,\u0022sgGoogleStatus\u0022:\u0022\u0022,\u0022sgPinterestStatus\u0022:\u0022\u0022,\u0022pushToBottom\u0022:\u0022\u0022}","socialOptions":"{\u0022sgSocialTheme\u0022:\u0022\u0022,\u0022sgSocialButtonsSize\u0022:\u0022\u0022,\u0022sgSocialLabel\u0022:\u0022\u0022,\u0022sgSocialShareCount\u0022:\u0022\u0022,\u0022sgRoundButton\u0022:\u0022\u0022,\u0022fbShareLabel\u0022:\u0022\u0022,\u0022lindkinLabel\u0022:\u0022\u0022,\u0022sgShareUrl\u0022:\u0022\u0022,\u0022shareUrlType\u0022:\u0022\u0022,\u0022googLelabel\u0022:\u0022\u0022,\u0022twitterLabel\u0022:\u0022\u0022,\u0022pinterestLabel\u0022:\u0022\u0022,\u0022sgMailSubject\u0022:\u0022\u0022,\u0022sgMailLable\u0022:\u0022\u0022}","countdownOptions":"{\u0022pushToBottom\u0022:\u0022\u0022,\u0022countdownNumbersBgColor\u0022:\u0022\u0022,\u0022countdownNumbersTextColor\u0022:\u0022\u0022,\u0022sg-due-date\u0022:\u0022\u0022,\u0022countdown-position\u0022:\u0022\u0022,\u0022counts-language\u0022:\u0022\u0022,\u0022sg-time-zone\u0022:\u0022\u0022,\u0022sg-countdown-type\u0022:\u0022\u0022,\u0022countdown-autoclose\u0022:\u0022\u0022}","exitIntentOptions":"{\u0022exit-intent-type\u0022:\u0022\u0022,\u0022exit-intent-expire-time\u0022:\u0022\u0022,\u0022exit-intent-alert\u0022:\u0022\u0022}","videoOptions":"{\u0022video-autoplay\u0022:\u0022\u0022}","fblikeOptions":"{\u0022fblike-like-url\u0022:\u0022\u0022,\u0022fblike-layout\u0022:\u0022\u0022}","html":"\u003Cp\u003E\u003Ca href=\u0022https:\/\/id.jobplanet.com\/forum?forum_topic_id=1\u0022 target=\u0022_blank\u0022 rel=\u0022noopener noreferrer\u0022\u003E\u003Cimg class=\u0022aligncenter wp-image-4824 size-full\u0022 src=\u0022http:\/\/blog.id.jobplanet.com\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/popupbanner_blog_forum1.jpg\u0022 alt=\u0022forum karir\u0022 width=\u0022468\u0022 height=\u0022302\u0022 \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/p\u003E","customEvent":"0"};</script><script type="text/javascript">

			sgAddEvent(window, 'load',function() {
				var sgPoupFrontendObj = new SGPopup();
				sgPoupFrontendObj.popupOpenById(2)
			});
		</script>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://blog.id.jobplanet.com/untung-dan-rugi-menjadi-kutu-loncat/">Untung dan Rugi Menjadi Kutu Loncat</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://blog.id.jobplanet.com">Jobplanet Blog</a>.</p>
]]></content:encoded>
			</item>
		<item>
		<title>Bagaimana Mempertahankan Karyawan ‘Kutu Loncat’?</title>
		<link>https://blog.id.jobplanet.com/bagaimana-mempertahankan-karyawan-kutu-loncat/</link>
		<pubDate>Tue, 11 Apr 2017 04:00:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Jobplanet]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[fenomena kutu loncat]]></category>
		<category><![CDATA[gaji startup]]></category>
		<category><![CDATA[generasi milenial]]></category>
		<category><![CDATA[karyawan milenial]]></category>
		<category><![CDATA[kutu loncat]]></category>
		<category><![CDATA[manajemen]]></category>
		<category><![CDATA[milenial]]></category>
		<category><![CDATA[startup]]></category>
		<category><![CDATA[tingkat kesetiaan karyawan]]></category>
		<category><![CDATA[tingkat kesetiaan karyawan gen x]]></category>
		<category><![CDATA[tingkat kesetiaan karyawan gen y]]></category>
		<category><![CDATA[training karyawan]]></category>
		<category><![CDATA[work life balance]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.id.jobplanet.com/?p=3554</guid>
		<description><![CDATA[<p> Artikel ini juga dapat dibaca di  . Pergantian generasi yang tengah terjadi di dunia kerja saat ini menuntut perusahaan untuk melakukan perubahan dalam tata kelola sumber daya manusia (SDM). Pasalnya, saat ini utamanya ada dua generasi dengan karakter yang berbeda, yang sedang aktif menggeluti dunia kerja. Mereka adalah Gen X dan Gen Y, atau yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://blog.id.jobplanet.com/bagaimana-mempertahankan-karyawan-kutu-loncat/">Bagaimana Mempertahankan Karyawan ‘Kutu Loncat’?</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://blog.id.jobplanet.com">Jobplanet Blog</a>.</p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://blog.id.jobplanet.com/wp-content/uploads/2017/04/blog_kutuloncat_body.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-3585" src="http://blog.id.jobplanet.com/wp-content/uploads/2017/04/blog_kutuloncat_body.jpg" alt="karyawan kutu loncat milenial" srcset="http://blog.id.jobplanet.com/wp-content/uploads/2017/04/blog_kutuloncat_body.jpg 700w, http://blog.id.jobplanet.com/wp-content/uploads/2017/04/blog_kutuloncat_body-300x157.jpg 300w" sizes="(max-width: 700px) 100vw, 700px" /></a></p>
<table style="height: 75px;" width="566">
<tbody>
<tr>
<td style="text-align: left;" width="163"> Artikel ini juga dapat dibaca di  <a href="http://beritagar.id" target="_blank" rel="noopener noreferrer"><img class="alignnone wp-image-2408" src="http://blog.id.jobplanet.com/wp-content/uploads/2015/12/Beritagar-logo-300x57.jpg" alt="beritagar-logo" width="100" height="19" srcset="http://blog.id.jobplanet.com/wp-content/uploads/2015/12/Beritagar-logo-300x57.jpg 300w, http://blog.id.jobplanet.com/wp-content/uploads/2015/12/Beritagar-logo-768x146.jpg 768w, http://blog.id.jobplanet.com/wp-content/uploads/2015/12/Beritagar-logo-1024x195.jpg 1024w" sizes="(max-width: 100px) 100vw, 100px" /></a>.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Pergantian generasi yang tengah terjadi di dunia kerja saat ini menuntut perusahaan untuk melakukan perubahan dalam tata kelola sumber daya manusia (SDM). Pasalnya, saat ini utamanya ada dua generasi dengan karakter yang berbeda, yang sedang aktif menggeluti dunia kerja. Mereka adalah Gen X dan Gen Y, atau yang juga sering disebut Generasi Milenial.</p>
<p>Gen Y yang kini mendominasi dunia kerja adalah para karyawan di rentang usia 21–35 tahun. Mereka dikenal sebagai generasi yang melek teknologi, mudah penasaran, dinamis, haus akan tantangan baru, dan tak suka dikekang. Ada juga pandangan bahwa generasi ini kurang setia terhadap pekerjaan, sehingga akrab dengan sebutan ‘kutu loncat’.</p>
<p>Tapi, apakah benar demikian?</p>
<p>Hasil <a href="http://blog.id.jobplanet.com/tingkat-kesetiaan-karyawan-dari-berbagai-generasi-di-dunia-kerja/">riset Jobplanet belum lama ini</a> mendukung pandangan tersebut. Berdasarkan riset, sebanyak 76,7% dari mereka hanya bertahan 1-2 tahun di tempat kerjanya, sebelum memutuskan untuk berpindah kerja. Hanya 9,5% dari mereka yang bertahan bekerja di satu tempat selama lima tahun atau lebih.</p>
<p>Bandingkan dengan generasi pendahulunya, yakni Gen X. Sebanyak 42,5% dari mereka bisa bertahan hingga lebih dari lima tahun di satu tempat kerja. Sementara, hanya 10% dari mereka yang berpindah kerja dalam waktu satu tahun.</p>
<p>Para karyawan Gen Y yang hanya bertahan di tempat kerja selama 1–2 tahun, kebanyakan berusia 21–25 tahun. Jika menilik usianya, para karyawan ini bisa dibilang belum lama memasuki dunia kerja. Tentu bisa dipahami bahwa mereka lebih mementingkan untuk mempelajari berbagai hal baru dan memperkaya pengalaman mereka. Jadi, tak heran jika mereka tak segan berpindah kerja jika merasa sudah tak mendapatkan tantangan atau ilmu baru di tempat kerja.</p>
<p><strong>Mempertahankan dan memotivasi ‘kutu loncat’ </strong></p>
<p>Kehadiran Gen Y di dunia kerja menciptakan tantangan baru bagi perusahaan. Menyikapi karakter Milenial yang kreatif namun tak suka dikekang, perusahaan dituntut untuk melakukan perubahan. Tak heran jika banyak perusahaan lantas menerapkan beragam strategi untuk membuat karyawan Milenial mereka betah dan tetap termotivasi untuk bekerja dengan semangat.</p>
<p><strong>1. Menciptakan lingkungan kerja yang nyaman</strong></p>
<p>Mulai banyak perusahaan yang melakukan hal ini. Beberapa, misalnya, menerapkan ruang kerja terbuka untuk memudahkan komunikasi antarkaryawan, serta menyediakan ruang olah raga dan ruang bermain yang dilengkapi dengan beragam fasilitas, seperti meja pingpong dan konsol <em>game</em>. Bahkan ada yang menyediakan ruang istirahat yang dilengkapi dengan sofa dan matras. Ada pula perusahaan yang menyediakan makan siang serta <em>pantry</em> yang penuh dengan aneka <em>snack</em> dan minuman bagi karyawan.</p>
<p><strong>2. Paket kompensasi menarik </strong></p>
<p>Beberapa perusahaan menawarkan paket kompensasi yang menarik bagi karyawan berkualifikasi. Tentunya ini bergantung pada kemampuan dan jenis perusahaan, lokasi, serta profesi dan bidang keahlian karyawan.</p>
<p>Perusahaan-perusahaan rintisan atau <em>startup</em>, misalnya, dikenal memberikan kelebihan dalam hal kompensasi. Meski begitu, lingkungan kerja <em>startup</em> yang dinamis tentunya menuntut karyawan untuk siaga dan senantiasa siap dengan perubahan, termasuk risiko jika <em>startup</em> mengalami kegagalan. Namun, perlu dipahami pula bahwa <a href="https://id.jobplanet.com/salaries/">gaji</a> bukanlah satu-satunya faktor yang menjadi pertimbangan karyawan ‘kutu loncat’.</p>
<p><strong>3. Pelatihan dan pendidikan</strong></p>
<p>Melihat karakter Milenial yang suka dengan tantangan serta ingin memaksimalkan potensi mereka dan mempelajari hal-hal baru, ada pula perusahaan yang menerapkan rotasi karyawan secara berkala agar mereka bisa mendapatkan ilmu baru sekaligus mengetahui apa yang dikerjakan oleh rekan-rekannya dari divisi yang berbeda. Selain itu, banyak pula perusahaan yang memberikan kesempatan <em>training</em> dan pendidikan kepada karyawan.</p>
<p><strong><em>4. </em></strong><strong>Kegiatan santai bersama tim</strong></p>
<p>Untuk menjaga keharmonisan antarkaryawan dan divisi, banyak pula perusahaan yang mengadakan <em>team-outing</em> atau kegiatan santai lainnya secara teratur. <a href="https://id.jobplanet.com/">Jobplanet</a>, misalnya, menerapkan <em>half-day</em> dan mengadakan <em>team lunch</em> pada hari Jumat terakhir di setiap bulan. Pada hari itu, karyawan hanya bekerja setengah hari, dan aktivitas kerja pada hari itu ditutup dengan makan siang bersama. Kegiatan ini diadakan selain untuk menjalin keakraban antarkaryawan, juga untuk menjaga <em><a href="https://id.jobplanet.com/companies?&amp;sort_by=review_worklife_cache">work-life balance</a></em> para karyawan.</p>
<p>Meski begitu, apapun strategi yang dilakukan oleh perusahaan untuk mempertahankan karyawan mereka, tentunya ada hal yang lebih mendasar yang perlu diingat oleh perusahaan, yakni <strong><em>trust</em></strong> atau kepercayaan.</p>
<p><strong>Mengapa <em>trust</em>?</strong></p>
<p>Mengapa perusahaan—dalam hal ini pihak manajemen—perlu memberikan kepercayaan kepada karyawan untuk melakukan pekerjaan dan menunjukkan hasil kerja terbaik mereka? Kepercayaan akan melahirkan rasa tanggung jawab dan percaya diri dalam diri karyawan, dan akan menumbuhkan rasa ikut memiliki serta keinginan dalam diri karyawan untuk berkontribusi bagi kemajuan organisasi dan dirinya sendiri sebagai profesional.</p>
<p>Dari sisi perusahaan, kepercayaan bukan hanya perlu diberikan kepada karyawan Milenial saja, tapi untuk seluruh karyawan dan bagian dari perusahaan. Demikian pula sebaliknya. Karyawan juga perlu menunjukkan bahwa dirinya mampu dan ingin berkembang sehingga pantas mendapatkan kepercayaan dari perusahaan, serta bisa menjaga kepercayaan tersebut. Ini demi terciptanya keseimbangan dan sinergi dalam organisasi.</p>
<p>Bagaimana dengan perusahaan Anda? Sudahkah <a href="https://id.jobplanet.com/companies?&amp;sort_by=review_management_cache">manajemen perusahaan</a> menerapkan strategi yang bisa membuat betah dan memotivasi karyawan?</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://blog.id.jobplanet.com/bagaimana-mempertahankan-karyawan-kutu-loncat/">Bagaimana Mempertahankan Karyawan ‘Kutu Loncat’?</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://blog.id.jobplanet.com">Jobplanet Blog</a>.</p>
]]></content:encoded>
			</item>
		<item>
		<title>Tingkat Kesetiaan Karyawan dari Berbagai Generasi di Dunia Kerja</title>
		<link>https://blog.id.jobplanet.com/tingkat-kesetiaan-karyawan-dari-berbagai-generasi-di-dunia-kerja/</link>
		<pubDate>Tue, 14 Feb 2017 04:00:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Jobplanet]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Press Release]]></category>
		<category><![CDATA[Chief Product Officer Jobplanet]]></category>
		<category><![CDATA[gen x]]></category>
		<category><![CDATA[gen y]]></category>
		<category><![CDATA[gen z]]></category>
		<category><![CDATA[generasi milenial]]></category>
		<category><![CDATA[Jobplanet]]></category>
		<category><![CDATA[Jobplanet di Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[karyawan]]></category>
		<category><![CDATA[karyawan milenial]]></category>
		<category><![CDATA[milenial]]></category>
		<category><![CDATA[riset Jobplanet]]></category>
		<category><![CDATA[sdm]]></category>
		<category><![CDATA[survei Jobplanet]]></category>
		<category><![CDATA[tingkat kesetiaan]]></category>
		<category><![CDATA[tingkat kesetiaan karyawan]]></category>
		<category><![CDATA[tingkat kesetiaan karyawan gen x]]></category>
		<category><![CDATA[tingkat kesetiaan karyawan gen y]]></category>
		<category><![CDATA[tingkat kesetiaan karyawan gen z]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.id.jobplanet.com/?p=3086</guid>
		<description><![CDATA[<p>Dibandingkan dengan Gen X, Gen Y memiliki tingkat kesetiaan yang lebih rendah terhadap pekerjaan mereka. Sebanyak 76,7% dari mereka hanya bertahan 1–2 tahun di tempat kerjanya sebelum memutuskan untuk berpindah kerja. Jakarta, 13 Februari 2017 – Pergantian generasi di dunia kerja saat ini menuntut perusahaan untuk melakukan perubahan dalam tata kelola sumber daya manusia (SDM). [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://blog.id.jobplanet.com/tingkat-kesetiaan-karyawan-dari-berbagai-generasi-di-dunia-kerja/">Tingkat Kesetiaan Karyawan dari Berbagai Generasi di Dunia Kerja</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://blog.id.jobplanet.com">Jobplanet Blog</a>.</p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_3089" style="width: 610px" class="wp-caption aligncenter"><a href="http://blog.id.jobplanet.com/wp-content/uploads/2017/02/Infografik_Tingkat-Kepuasan-Karyawan.jpg"><img class="wp-image-3089" src="http://blog.id.jobplanet.com/wp-content/uploads/2017/02/Infografik_Tingkat-Kepuasan-Karyawan-1024x651.jpg" width="600" height="382" srcset="http://blog.id.jobplanet.com/wp-content/uploads/2017/02/Infografik_Tingkat-Kepuasan-Karyawan-1024x651.jpg 1024w, http://blog.id.jobplanet.com/wp-content/uploads/2017/02/Infografik_Tingkat-Kepuasan-Karyawan-300x191.jpg 300w, http://blog.id.jobplanet.com/wp-content/uploads/2017/02/Infografik_Tingkat-Kepuasan-Karyawan-768x488.jpg 768w" sizes="(max-width: 600px) 100vw, 600px" /></a><p class="wp-caption-text"><strong>Infografik: Perbandingan Tingkat Kesetiaan Karyawan Gen X, Y, dan Z di Indonesia</strong></p></div>
<p><em>Dibandingkan dengan Gen X, Gen Y memiliki tingkat kesetiaan yang lebih rendah terhadap pekerjaan mereka. Sebanyak 76,7% dari mereka hanya bertahan 1</em><em>–</em><em>2 tahun di tempat kerjanya sebelum memutuskan untuk berpindah kerja.</em></p>
<p><strong>Jakarta, 13 Februari 2017 </strong>– Pergantian generasi di dunia kerja saat ini menuntut perusahaan untuk melakukan perubahan dalam tata kelola sumber daya manusia (SDM). Pasalnya, saat ini utamanya ada dua generasi dengan karakter yang berbeda, yang sedang aktif menggeluti dunia kerja. Mereka adalah Gen X dan Gen Y yang juga kerap disebut Generasi Milenial.</p>
<p>Dibedakan berdasarkan rentang tahun kelahiran mereka, Gen X yang tengah mengisi dunia kerja saat ini adalah para karyawan yang berusia di atas 35 tahun. Sementara Gen Y yang kini mendominasi dunia kerja adalah para karyawan di rentang usia 21–35 tahun.</p>
<p>Berbeda dengan Gen X yang bekerja untuk meraih kemapanan dan kemandirian dalam hal ekonomi dan karier, Gen Y yang besar bersama teknologi dikenal sebagai generasi yang haus akan tantangan baru, mudah penasaran, dinamis, dan bekerja untuk mengoptimalkan potensi mereka. Hal itu pula yang menyebabkan karyawan dari generasi ini akrab dengan sebutan ‘kutu loncat’.</p>
<p>Namun, apakah pandangan tersebut bisa dibenarkan? Untuk menjawab pertanyaan itu, <strong>Jobplanet </strong>(<strong><a href="http://id.jobplanet.com/">Jobplanet.com</a></strong>), <em>platform</em> komunitas <em>online</em> yang menampilkan informasi perusahaan dan lowongan kerja, mengadakan survei dan riset tentang tingkat kesetiaan karyawan dari kedua generasi tersebut terhadap pekerjaan mereka.</p>
<p>Riset dilakukan berdasarkan data yang terkumpul melalui Jobplanet.com sejak Agustus 2015 hingga Januari 2017. Dalam riset ini, Jobplanet mengelompokkan para responden berdasarkan generasi usia mereka, yakni karyawan Gen X dan karyawan Gen Y. Total responden dari kedua generasi tersebut, yang ikut serta dalam riset ini berjumlah 88.900 orang dan tersebar di 35 provinsi di Indonesia.</p>
<p>Mayoritas responden, yakni sebanyak 81.800 orang, merupakan karyawan Gen Y yang memang mendominasi angkatan kerja pada saat ini. Sisanya sebanyak 7.100 orang masuk dalam kelompok karyawan Gen X.</p>
<p><strong>Temuan Menarik</strong></p>
<p>Berdasarkan riset tersebut, Jobplanet menemukan beberapa hal menarik sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Dibandingkan dengan Gen X, Gen Y memiliki tingkat kesetiaan yang lebih rendah terhadap pekerjaan mereka. Sebanyak 76,7% dari mereka hanya bertahan 1–2 tahun di tempat kerjanya sebelum memutuskan untuk berpindah kerja. Hanya 9,5% dari mereka yang bertahan bekerja di satu tempat selama lima tahun atau lebih.</li>
<li>Sebaliknya, Gen X memiliki tingkat kesetiaan yang jauh lebih tinggi terhadap pekerjaan mereka. Sebanyak 42,5% karyawan Gen X bertahan di tempat kerjanya hingga lebih dari lima tahun. Sementara itu, hanya 10% dari mereka yang berpindah kerja dalam waktu satu tahun.</li>
<li>Kebanyakan karyawan Gen Y hanya bertahan di tempat kerjanya selama 1–2 tahun. Kebanyakan dari mereka terutama karyawan yang berusia 21–25 tahun. Karyawan di rentang usia ini bisa dikatakan belum lama memasuki dunia kerja. Dalam bekerja, mereka fokus memelajari hal-hal baru dan memperkaya pengalaman mereka. Mereka pun tak segan berpindah kerja ketika merasa sudah tak mendapatkan tantangan atau ilmu baru di tempat kerja mereka.</li>
</ol>
<p>“Hasil riset Jobplanet ini mendukung pandangan masyarakat tentang kesetiaan karyawan dari Gen Y atau Generasi Milenial terhadap pekerjaan mereka. Generasi ini sangat berbeda dengan generasi sebelumnya, yakni Gen X, yang sanggup bertahan di sebuah perusahaan hingga empat tahun bahkan lebih,” ungkap Kemas Antonius, Chief Product Officer Jobplanet di Indonesia.</p>
<p>“Meski karyawan Milenial bisa dikatakan ‘kurang setia’, namun hal itu tak selalu berarti buruk. Sejatinya, mereka selalu ingin belajar dan haus akan tantangan. Oleh karena itu, perusahaan perlu memenuhi kebutuhan mereka untuk belajar, menempatkan mereka pada posisi yang sesuai dengan minat mereka, dan terus menantang mereka untuk memberikan hasil kerja terbaik,” papar Kemas.</p>
<p><strong>Sebagian Gen Z Mulai Memasuki Dunia Kerja</strong></p>
<p>Pergantian generasi di dunia kerja juga ditandai dengan mulai masuknya Gen Z sebagai tenaga kerja. Sejalan dengan riset ini, Jobplanet juga melakukan survei tentang tingkat kesetiaan Gen Z terhadap pekerjaan mereka. Sebanyak 4.550 orang karyawan berusia 18–20 tahun turut serta menjadi responden.</p>
<p>Berdasarkan riset tersebut, Jobplanet menemukan bahwa jika dibandingkan dengan Gen X dan Gen Y, karyawan Gen Z memiliki tingkat kesetiaan yang paling rendah terhadap pekerjaan mereka. Sebanyak 57,3% dari total responden Gen Z berpindah kerja setelah satu tahun bekerja di suatu tempat.</p>
<p class="p1"><span class="s1">“Kebanyakan dari Gen Z yang telah memasuki dunia kerja adalah lulusan SMU dan SMK, atau bekerja sambil kuliah, karena kebanyakan dari generasi ini masih berada dalam usia sekolah. Mereka yang telah memasuki dunia kerja saat ini berprofesi sebagai pekerja kerah biru dan tak segan untuk sering berganti pekerjaan, bahkan lebih sering ketimbang Gen Y,” papar Kemas.</span></p>
<p>Jobplanet berharap hasil riset tentang kesetiaan karyawan berdasarkan generasi ini dapat bermanfaat, khususnya bagi perusahaan dalam mengembangkan strategi yang tepat untuk mengelola serta mempertahankan karyawan-karyawan terbaik mereka.</p>
<p style="text-align: center;"><strong>– SELESAI –</strong></p>
<p><strong>Tentang Jobplanet</strong><br />
Jobplanet merupakan <em>platform</em> komunitas <em>online</em> untuk berbagi informasi seputar dunia kerja dan perusahaan. Jobplanet menyajikan beragam informasi tentang dunia kerja dari segala sisi, termasuk <em>review</em> perusahaan, informasi gaji, kisi-kisi pertanyaan dalam wawancara kerja, serta informasi lowongan kerja.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://blog.id.jobplanet.com/tingkat-kesetiaan-karyawan-dari-berbagai-generasi-di-dunia-kerja/">Tingkat Kesetiaan Karyawan dari Berbagai Generasi di Dunia Kerja</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://blog.id.jobplanet.com">Jobplanet Blog</a>.</p>
]]></content:encoded>
			</item>
		<item>
		<title>3 Pelajaran Berharga yang Wajib Diketahui Karyawan Milenial</title>
		<link>https://blog.id.jobplanet.com/3-pelajaran-berharga-yang-wajib-diketahui-karyawan-milenial/</link>
		<pubDate>Mon, 23 Jan 2017 03:00:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Jobplanet]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Tips Karir]]></category>
		<category><![CDATA[budaya kantor google]]></category>
		<category><![CDATA[generasi milenial]]></category>
		<category><![CDATA[google]]></category>
		<category><![CDATA[job hopper]]></category>
		<category><![CDATA[karyawan milenial]]></category>
		<category><![CDATA[kutu loncat]]></category>
		<category><![CDATA[milenial]]></category>
		<category><![CDATA[netflix]]></category>
		<category><![CDATA[startup]]></category>
		<category><![CDATA[tips karir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.id.jobplanet.com/?p=2886</guid>
		<description><![CDATA[<p> Artikel ini juga dapat dibaca di  . Sebagai generasi yang mendominasi dunia kerja, topik seputar karyawan milenial seperti tak ada habisnya. Keberadaan mereka tampak begitu istimewa, mengingat sebutan “milenial” selalu disinggung di mana-mana. Demi merebut hati mereka, perusahaan pun bersedia menyelaraskan nilai-nilai yang dianutnya dengan budaya kerja yang ideal di mata generasi muda ini. Sepintas [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://blog.id.jobplanet.com/3-pelajaran-berharga-yang-wajib-diketahui-karyawan-milenial/">3 Pelajaran Berharga yang Wajib Diketahui Karyawan Milenial</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://blog.id.jobplanet.com">Jobplanet Blog</a>.</p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter size-full wp-image-2888" src="http://blog.id.jobplanet.com/wp-content/uploads/2017/01/blog_230117-02.jpg" alt="Pelajaran Berharga yang Wajib Diketahui Karyawan Milenial" srcset="http://blog.id.jobplanet.com/wp-content/uploads/2017/01/blog_230117-02.jpg 700w, http://blog.id.jobplanet.com/wp-content/uploads/2017/01/blog_230117-02-300x157.jpg 300w" sizes="(max-width: 700px) 100vw, 700px" /></p>
<table style="height: 75px;" width="566">
<tbody>
<tr>
<td style="text-align: left;" width="163"> Artikel ini juga dapat dibaca di  <a href="http://beritagar.id" target="_blank"><img class="alignnone wp-image-2408" src="http://blog.id.jobplanet.com/wp-content/uploads/2015/12/Beritagar-logo-300x57.jpg" alt="beritagar-logo" width="100" height="19" srcset="http://blog.id.jobplanet.com/wp-content/uploads/2015/12/Beritagar-logo-300x57.jpg 300w, http://blog.id.jobplanet.com/wp-content/uploads/2015/12/Beritagar-logo-768x146.jpg 768w, http://blog.id.jobplanet.com/wp-content/uploads/2015/12/Beritagar-logo-1024x195.jpg 1024w" sizes="(max-width: 100px) 100vw, 100px" /></a>.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Sebagai generasi yang mendominasi dunia kerja, topik seputar karyawan milenial seperti tak ada habisnya. Keberadaan mereka tampak begitu istimewa, mengingat sebutan “milenial” selalu disinggung di mana-mana. Demi merebut hati mereka, perusahaan pun bersedia menyelaraskan nilai-nilai yang dianutnya dengan budaya kerja yang ideal di mata generasi muda ini.</p>
<p>Sepintas diamati, upaya perusahaan untuk melawan isu loyalitas karyawan milenial seperti berlangsung satu arah. Segala cara mereka lakukan guna mengakomodasi kebutuhan dan ekspektasi, serta mempertahankan karyawan milenial. Akan tetapi, bagaimana dengan karyawan itu sendiri? Apakah mereka hanya duduk manis menikmati <em>benefit</em> yang disuguhkan?</p>
<p><em>Nah, </em>berikut ini tiga pelajaran berharga di dunia kerja yang wajib diketahui karyawan milenial:</p>
<p><strong>1. Tidak semua hal harus instan</strong></p>
<p>Meningkatnya jumlah <em>startup</em> atau perusahaan rintisan lokal yang dipimpin oleh para angkatan muda jelas menginspirasi kaum milenial. Fenomena ini berhasil membukakan mata mereka bahwa peluang sukses di usia muda bukan hal yang mustahil. Sayangnya, tak banyak dari mereka yang tahu seperti apa perjuangan sesungguhnya di balik pencapaian tersebut.</p>
<p>Hidup di era global membuat generasi milenial terbiasa mendapatkan segala sesuatu secara mudah dan instan. Faktanya, tidak semua hal demikian. Meski ada sejumlah orang yang hanya butuh waktu singkat untuk meraih kedudukan tinggi nan bergengsi, tapi percayalah, hasil tak akan pernah mengkhianati usaha dan kerja keras seseorang.</p>
<p><strong>2. Buktikan dulu sebelum menuntut</strong></p>
<p>Mengamati budaya organisasi modern yang dipelopori <a href="https://id.jobplanet.com/companies/42881/reviews/pt-google-indonesia?utm_medium=artikel&amp;utm_campaign=pelajaran_karayawan_milenial&amp;utm_source=blog" target="_blank"><strong>Google</strong></a>, banyak kaum milenial yang kemudian mendambakan tempat kerja yang <em>fun</em>, dengan fasilitas hiburan lengkap serta beragam fleksibilitas, mulai dari pakaian hingga jam kerja. Bagi mereka, itulah gambaran perusahaan yang ideal. Padahal, menerapkan “konsep Google” tak bisa sembarangan.</p>
<p><a href="http://www.forbes.com/sites/kevinkruse/2016/09/05/netflix-has-no-rules-because-they-hire-great-people/2/#69ae7511721e" target="_blank"><strong>Netflix</strong></a>, misalnya, perusahaan penyewaan film <em>online </em>ini dikenal unik karena tidak menerapkan peraturan kerja bagi karyawannya. Meski terbilang berani, namun langkah tersebut mereka ambil karena karyawan-karyawan yang mereka pekerjakan benar-benar bermutu tinggi, serta dipercaya mampu berkembang di tengah kebebasan.</p>
<p>Belajar dari kedua perusahaan di atas, maka ada baiknya sebelum menuntut banyak hal, karyawan milenial terlebih dahulu membuktikan bahwa mereka benar-benar punya <em>skill </em>dan mutu yang layak diperhitungkan. Dengan begitu, perusahaan bisa melihat bahwa karyawannya memang merupakan aset bernilai yang berhak dihargai tinggi.</p>
<p><strong>3. Yang nyaman itu tak selalu baik</strong></p>
<p><a href="http://blog.id.jobplanet.com/terlalu-sering-berpindah-kerja-benarkah-bisa-membunuh-karier/" target="_blank"><strong>Berpindah-pindah kerja</strong></a> bak kutu loncat sudah jadi ciri khas yang melekat pada diri karyawan milenial. Kabarnya, karyawan generasi ini cepat merasa bosan dan tidak betah berlama-lama di satu perusahaan. Sedikit saja merasa tidak nyaman dengan beban kerja atau gaya kepemimpinan atasan, mereka lantas bergegas <a href="https://id.jobplanet.com/lowongan?utm_medium=artikel&amp;utm_campaign=pelajaran_karayawan_milenial&amp;utm_source=blog" target="_blank"><strong>mencari tempat kerja baru</strong></a>.</p>
<p>Tentunya tak semua karyawan milenial mengeluhkan hal yang sama. Namun, khusus untuk para <em>job-hoppers, </em>mereka perlu menyadari bahwa terkadang seorang karyawan harus memaksa dirinya <a href="http://blog.id.jobplanet.com/nyaman-di-tempat-kerja-tak-selalu-pertanda-baik-ini-sebabnya/" target="_blank"><strong>keluar dari zona nyaman</strong></a>. Jika tidak, maka ia akan sulit berkembang, sehingga langkahnya pun semakin jauh dari kesuksesan.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://blog.id.jobplanet.com/3-pelajaran-berharga-yang-wajib-diketahui-karyawan-milenial/">3 Pelajaran Berharga yang Wajib Diketahui Karyawan Milenial</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://blog.id.jobplanet.com">Jobplanet Blog</a>.</p>
]]></content:encoded>
			</item>
		<item>
		<title>5 Tipe Pemimpin yang Disukai Generasi Milenial</title>
		<link>https://blog.id.jobplanet.com/5-tipe-pemimpin-yang-disukai-generasi-milenial/</link>
		<pubDate>Tue, 17 Jan 2017 04:00:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Jobplanet]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Posts]]></category>
		<category><![CDATA[Jobplanet]]></category>
		<category><![CDATA[karir]]></category>
		<category><![CDATA[leadership]]></category>
		<category><![CDATA[lowongan kerja]]></category>
		<category><![CDATA[milenial]]></category>
		<category><![CDATA[pekerjaan]]></category>
		<category><![CDATA[perusahaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.id.jobplanet.com/?p=2840</guid>
		<description><![CDATA[<p> Artikel ini juga dapat dibaca di  . Setiap pemimpin dalam sebuah organisasi pasti akan selalu dihadapkan oleh berbagai tantangan. Tantangan ini biasanya berbeda-beda, tergantung pada budaya yang dianut masing-masing generasi di dalamnya—tak terkecuali generasi milenial yang saat ini sedang mendominasi dunia kerja. Generasi milenial dikenal sebagai generasi yang tumbuh di era perkembangan teknologi dan informasi. [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://blog.id.jobplanet.com/5-tipe-pemimpin-yang-disukai-generasi-milenial/">5 Tipe Pemimpin yang Disukai Generasi Milenial</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://blog.id.jobplanet.com">Jobplanet Blog</a>.</p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter" src="http://blog.id.jobplanet.com/wp-content/uploads/2017/01/blog_170117-02.jpg" /></p>
<table style="height: 75px;" width="566">
<tbody>
<tr>
<td style="text-align: left;" width="163"> Artikel ini juga dapat dibaca di  <a href="http://beritagar.id" target="_blank"><img class="alignnone wp-image-2408" src="http://blog.id.jobplanet.com/wp-content/uploads/2015/12/Beritagar-logo-300x57.jpg" alt="beritagar-logo" width="100" height="19" srcset="http://blog.id.jobplanet.com/wp-content/uploads/2015/12/Beritagar-logo-300x57.jpg 300w, http://blog.id.jobplanet.com/wp-content/uploads/2015/12/Beritagar-logo-768x146.jpg 768w, http://blog.id.jobplanet.com/wp-content/uploads/2015/12/Beritagar-logo-1024x195.jpg 1024w" sizes="(max-width: 100px) 100vw, 100px" /></a>.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Setiap pemimpin dalam sebuah organisasi pasti akan selalu dihadapkan oleh berbagai tantangan. Tantangan ini biasanya berbeda-beda, tergantung pada budaya yang dianut masing-masing generasi di dalamnya—tak terkecuali generasi milenial yang saat ini sedang mendominasi dunia kerja.</p>
<p>Generasi milenial dikenal sebagai generasi yang tumbuh di era perkembangan teknologi dan informasi. Hal ini kemudian menjadikan karakter mereka berbeda dengan generasi-generasi terdahulu. Para pemimpin pun mau tak mau dituntut untuk menyesuaikan gaya kepemimpinannya dalam mengelola generasi milenial di bawahnya.</p>
<p><em>Nah, </em>kira-kira seperti apa <em>sih </em>tipe pemimpin yang disukai oleh generasi milenial? Berikut lima di antaranya:</p>
<p><strong>1. Tech Savvy</strong></p>
<p>Pemimpin yang <em>tech savvy</em> alias melek teknologi akan disukai oleh generasi milenial, karena mampu berkomunikasi dan bertukar informasi dengan cara yang mereka sukai, yakni memanfaatkan teknologi. Pemimpin ini dapat dengan mudah berkoordinasi dan berkomunikasi dengan anggota timnya. Ia pun lebih mudah dijangkau kapan dan di manapun ia berada.</p>
<p><strong>2. Terbuka</strong></p>
<p>Transparansi merupakan suatu hal yang sangat penting untuk diterapkan dalam dunia kerja. Dengan adanya keterbukaan, maka seluruh karyawan bisa saling berkolaborasi dalam memajukan perusahaan. Pemimpin yang transparan mau berbagi permasalahan yang dihadapi perusahaan, sehingga memungkinan karyawannya untuk ikut memberikan solusi. Sebaliknya, ia pun terbiasa memberikan <em>feedback </em>kepada para karyawan, sehingga karyawan dapat mengevaluasi diri dan memperbaiki kinerjanya.</p>
<p><strong>3. Menerima perbedaan</strong></p>
<p>Dalam sebuah lingkungan kerja, seorang pemimpin pasti akan dipertemukan dengan karyawan yang berasal dari berbagai latar belakang—mulai dari latar belakang pendidikan dan pekerjaan, hingga menyangkut suku, ras, agama, dan sebagainya. Idealnya, ia harus mampu menciptakan tim kerja yang solid, terlepas dari perbedaan yang ada. Ia juga harus bersikap obyektif serta tidak memelihara budaya senioritas. <em>Nah, </em>tipe pemimpin seperti ini diharapkan oleh generasi milenial.</p>
<p><strong>4. Kolaboratif</strong></p>
<p>Generasi milenial cenderung lebih suka bekerja sama dalam tim daripada secara individual. Oleh karena itu, mereka membutuhkan sosok pemimpin yang dapat menjadi penghubung antarkaryawan. Pemimpin ini juga sebaiknya tahu cara terbaik dalam mengarahkan mereka. Kolaborasi tim memiliki peran penting dalam meraih tujuan dan target perusahaan.</p>
<p><strong>5. Visioner</strong></p>
<p>Bekerja di perusahaan yang memiliki visi dan misi yang jelas merupakan salah satu hal yang diharapkan oleh para karyawan generasi milenial. Itu artinya, sosok pemimpin di dalamnya juga harus merupakan seseorang yang visioner. Hal ini akan memudahkan generasi milenial untuk bekerja secara fokus dan lebih terarah dalam mengejar target yang diharapkan perusahaan.</p>
<p><em>Nah</em>, sekarang Anda tahu tipe-tipe pemimpin seperti apa yang disukai oleh generasi milenial. Sebagai pemimpin atau manajer di perusahaan, Anda juga bisa membaca <em>review </em>yang dibagikan oleh karyawan Anda di <a href="https://id.jobplanet.com/companies/?utm_medium=artikel&amp;utm_campaign=pemimpin_disukai_milenial&amp;utm_source=blog" target="_blank"><strong>Jobplanet</strong></a>. Dari situ, Anda bisa mengetahui apa yang mereka harapkan dari manajemen di perusahaan. Sebagai pemimpin, Anda pun jadi bisa menyesuaikan gaya kepemimpinan Anda dengan karakter karyawan milenial.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://blog.id.jobplanet.com/5-tipe-pemimpin-yang-disukai-generasi-milenial/">5 Tipe Pemimpin yang Disukai Generasi Milenial</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://blog.id.jobplanet.com">Jobplanet Blog</a>.</p>
]]></content:encoded>
			</item>
		<item>
		<title>Program Benefit Unik untuk Mempertahankan Karyawan Milenial</title>
		<link>https://blog.id.jobplanet.com/program-benefit-unik-untuk-mempertahankan-karyawan-milenial/</link>
		<pubDate>Wed, 07 Dec 2016 07:30:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Jobplanet]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Posts]]></category>
		<category><![CDATA[benefit]]></category>
		<category><![CDATA[bizzy]]></category>
		<category><![CDATA[employee benefit]]></category>
		<category><![CDATA[employee purchasing program]]></category>
		<category><![CDATA[gaya hidup online]]></category>
		<category><![CDATA[generasi milenial]]></category>
		<category><![CDATA[job-hopping]]></category>
		<category><![CDATA[karir]]></category>
		<category><![CDATA[mempertahankan karyawan]]></category>
		<category><![CDATA[milenial]]></category>
		<category><![CDATA[program benefit]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.id.jobplanet.com/?p=2516</guid>
		<description><![CDATA[<p>Sekarang ini adalah masa di mana generasi milenial mendominasi dunia kerja. Pertumbuhan jumlah karyawan milenial ini serta-merta menciptakan tantangan baru bagi perusahaan dan cenderung meresahkan. Pasalnya, ekspektasi dan budaya kerja yang dianut oleh karyawan milenial berbeda dengan generasi terdahulu yang kini menjadi pemimpinnya. Perbedaan ini pula yang selanjutnya menjadi pemicu perkembangan tren job-hopping. Job-hopping alias [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://blog.id.jobplanet.com/program-benefit-unik-untuk-mempertahankan-karyawan-milenial/">Program Benefit Unik untuk Mempertahankan Karyawan Milenial</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://blog.id.jobplanet.com">Jobplanet Blog</a>.</p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter size-full wp-image-2532" src="http://blog.id.jobplanet.com/wp-content/uploads/2016/12/blog_071216-02.jpg" alt="Mempertahankan Karyawan Milenial" srcset="http://blog.id.jobplanet.com/wp-content/uploads/2016/12/blog_071216-02.jpg 700w, http://blog.id.jobplanet.com/wp-content/uploads/2016/12/blog_071216-02-300x157.jpg 300w" sizes="(max-width: 700px) 100vw, 700px" /></p>
<p>Sekarang ini adalah masa di mana <a href="http://blog.id.jobplanet.com/apa-sesungguhnya-yang-diinginkan-generasi-millennial/" target="_blank"><strong>generasi milenial</strong></a> mendominasi dunia kerja. Pertumbuhan jumlah karyawan milenial ini serta-merta menciptakan tantangan baru bagi perusahaan dan cenderung meresahkan. Pasalnya, ekspektasi dan budaya kerja yang dianut oleh karyawan milenial berbeda dengan generasi terdahulu yang kini menjadi pemimpinnya. Perbedaan ini pula yang selanjutnya menjadi pemicu perkembangan tren <a href="http://blog.id.jobplanet.com/terlalu-sering-berpindah-kerja-benarkah-bisa-membunuh-karier/" target="_blank"><strong><em>job-hopping</em></strong></a><em>.</em></p>
<p><em>Job-hopping </em>alias berpindah-pindah kerja sudah menjadi citra yang melekat dalam diri karyawan milenial. Karakteristik mereka yang “katanya” sulit dikendalikan memaksa perusahaan untuk bekerja ekstra keras dalam merekrut dan mempertahankan karyawan dari generasi ini. Tak heran, banyak perusahaan menerapkan beragam strategi demi mempertahankan karyawan milenial mereka—terutama yang berprestasi. Salah satunya adalah melalui program <em>employee benefit.</em></p>
<p>Mengadakan program <em>employee benefit</em> merupakan sebuah langkah bijak yang harus disadari oleh semua perusahaan. Sayangnya, kebanyakan perusahaan masih percaya pada konsep “<em>one size fits all</em>”—di mana gaji pokok, asuransi kesehatan, dan tunjangan hari tua dianggap cukup untuk menjamin loyalitas karyawan milenial.</p>
<p>Faktanya, karyawan milenial memiliki ekspektasi yang lebih daripada itu. Selain mengejar ilmu dan kesempatan untuk berkembang dan memaksimalkan potensi, mereka juga memperhatikan beragam aspek pekerjaan lainnya. Di antaranya jenjang karier serta <em>benefit</em> yang “lebih”.</p>
<p>Beruntung, sejumlah perusahaan mulai menyadari hal tersebut, sehingga menyediakan <em>benefit </em>yang tak hanya dapat dinikmati oleh karyawan, tapi juga anggota keluarga mereka. Layanan <a href="https://id.jobplanet.com/promo/bizzy-benefits/bagaimana-cara-membuat-karyawan-betah-di-perusahaan-anda" target="_blank"><strong><em>employee purchasing program</em></strong></a> yang ditawarkan <a href="https://www.bizzy.co.id/" target="_blank"><strong>Bizzy</strong></a>, misalnya.</p>
<p><strong>Karyawan milenial mengharapkan benefit unik </strong></p>
<p>Kita ambil contoh program yang diterapkan oleh Bizzy. Berbeda dari tunjangan-tunjangan lain yang disediakan perusahaan pada umumnya, <em>employee purchasing program </em>memungkinkan karyawan untuk berbelanja kebutuhan pribadi secara <em>online. </em>Hal ini menarik, mengingat karyawan milenial dikenal sangat akrab dengan teknologi dan menerapkan gaya hidup <em>online</em>—selalu terhubung dengan Internet<em>.</em></p>
<p>Melalui <em>employee purchasing program </em>tersebut, perusahaan tak hanya menunjukkan kepeduliannya pada generasi milenial, tapi mereka juga memberi kemudahan yang nyata dan berarti bagi para karyawan. <em>Benefit </em>unik seperti ini dapat ditiru oleh perusahaan-perusahaan lain.</p>
<p>Tren <em>job-hopping </em>yang terjadi di kalangan milenial memang sulit dihindari. Akan tetapi, selama perusahaan mau mendengarkan suara hati karyawannya—termasuk yang mereka sampaikan di <a href="https://id.jobplanet.com/reviews?utm_medium=artikel&amp;utm_campaign=mempertahankan_karyawan_milenial&amp;utm_source=blog" target="_blank"><strong>Jobplanet.com</strong></a>—serta tak lupa menyesuaikan kebutuhan dan ekspektasi mereka, merekrut dan mempertahankan karyawan milenial pasti jauh lebih mudah.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://blog.id.jobplanet.com/program-benefit-unik-untuk-mempertahankan-karyawan-milenial/">Program Benefit Unik untuk Mempertahankan Karyawan Milenial</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://blog.id.jobplanet.com">Jobplanet Blog</a>.</p>
]]></content:encoded>
			</item>
		<item>
		<title>Panduan Wawancara Kerja untuk Si Kutu Loncat</title>
		<link>https://blog.id.jobplanet.com/panduan-wawancara-kerja-untuk-si-kutu-loncat/</link>
		<pubDate>Tue, 06 Dec 2016 04:00:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Jobplanet]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Tips Karir]]></category>
		<category><![CDATA[baby boomer]]></category>
		<category><![CDATA[berpindah-pindah kerja]]></category>
		<category><![CDATA[interview]]></category>
		<category><![CDATA[job-hopping]]></category>
		<category><![CDATA[karir]]></category>
		<category><![CDATA[kutu loncat]]></category>
		<category><![CDATA[milenial]]></category>
		<category><![CDATA[pertanyaan wawancara]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<category><![CDATA[tips interview]]></category>
		<category><![CDATA[tips wawancara]]></category>
		<category><![CDATA[wawancara kerja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.id.jobplanet.com/?p=2511</guid>
		<description><![CDATA[<p>Tren job-hopping alias berpindah-pindah kerja telah melekat dalam image karyawan milenial. Tak ayal, hal itu membuat mereka kerap dicap negatif, bahkan dijuluki ‘kutu loncat’, khususnya oleh para senior di perusahaan. Saat melamar kerja, tingkat kesulitan mereka untuk lolos saringan CV dan interview pun biasanya lebih tinggi. Umumnya, ada tiga kekhawatiran terbesar recruiter terhadap si ‘kutu [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://blog.id.jobplanet.com/panduan-wawancara-kerja-untuk-si-kutu-loncat/">Panduan Wawancara Kerja untuk Si Kutu Loncat</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://blog.id.jobplanet.com">Jobplanet Blog</a>.</p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter size-full wp-image-2513" src="http://blog.id.jobplanet.com/wp-content/uploads/2016/12/blog_061216-02.jpg" alt="Panduan Wawancara Kerja untuk Si Kutu Loncat" srcset="http://blog.id.jobplanet.com/wp-content/uploads/2016/12/blog_061216-02.jpg 700w, http://blog.id.jobplanet.com/wp-content/uploads/2016/12/blog_061216-02-300x157.jpg 300w" sizes="(max-width: 700px) 100vw, 700px" /></p>
<p>Tren <em>job-hopping</em> alias <a href="http://blog.id.jobplanet.com/terlalu-sering-berpindah-kerja-benarkah-bisa-membunuh-karier/" target="_blank">berpindah-pindah kerja</a> telah melekat dalam <em>image</em> karyawan milenial. Tak ayal, hal itu membuat mereka kerap dicap negatif, bahkan dijuluki ‘kutu loncat’, khususnya oleh para senior di perusahaan. Saat melamar kerja, tingkat kesulitan mereka untuk lolos saringan CV dan <em>interview </em>pun biasanya lebih tinggi.</p>
<p>Umumnya, ada <a href="https://www.themuse.com/advice/3-fears-hiring-managers-have-about-job-hoppers-that-you-can-put-to-rest" target="_blank">tiga kekhawatiran terbesar <em>recruiter</em></a> terhadap si ‘kutu loncat’. Di antaranya, khawatir bahwa ia tidak bisa berkomitmen, tidak sabaran, serta bermasalah dalam beradaptasi dengan lingkungannya. Tentu saja <em>recruiter </em>tak ingin mengambil risiko mempekerjakan karyawan dengan karakter demikian.</p>
<p>Apabila Anda salah satu pelamar yang senang berpindah kerja, kondisi ini mungkin bisa menyulitkan Anda. Apa lagi jika Anda akan berhadapan dengan calon atasan, yakni karyawan <em>baby boomer </em>yang memiliki perspektif yang jauh berbeda dalam hal karier.<em> Nah, </em>untuk meyakinkan HRD dan calon atasan bahwa Anda layak mendapatkan kesempatan dan diterima di perusahaan mereka, ikuti panduan <a href="https://id.jobplanet.com/interviews/cover?utm_medium=artikel&amp;utm_campaign=wawancara_kerja_si_kutu_loncat&amp;utm_source=blog" target="_blank"><strong>wawancara kerja</strong></a> berikut ini:</p>
<p><strong>1. Beri alasan <em>resign </em>yang meyakinkan</strong></p>
<p>Rasanya tidak aneh jika pewawancara menyangsikan pelamar yang dalam kurun waktu dua tahun sudah beberapa kali <em>resign </em>dari sejumlah nama perusahaan. Anda boleh bermodalkan IPK yang sempurna, tapi kebiasaan <em>job-hopping </em>yang disebabkan oleh hal-hal kecil tentu bukanlah kualitas yang diharapkan oleh <em>recruiter</em>.</p>
<p>Ketika pewawancara menanyakan kronologi <em>job-hopping </em>Anda, hindarilah jawaban yang memberi kesan kekanak-kanakan. Misalnya, tentang mantan bos yang menyebalkan, pekerjaan yang membosankan, atau perselisihan dengan rekan kerja. Meski demikian keadaan yang sesungguhnya, setidaknya berikan alasan yang lebih dewasa dan sampaikan secara baik.</p>
<p>Sebagai contoh, untuk menyampaikan alasan pindah kerja yang disebabkan oleh mantan bos, Anda tak perlu <em>curhat</em> berkepanjangan hingga menjatuhkan berbagai pihak. Sebaliknya, cukup tekankan saja bagaimana gaya kepemimpinan manajemen sebelumnya mulai menghambat perkembangan karier Anda, sehingga Anda terpaksa memutuskan untuk berpindah kerja.</p>
<p><strong>2. Tunjukkan bahwa Anda mudah beradaptasi</strong></p>
<p>Ketidakmampuan beradaptasi dengan lingkungan baru sering kali menjadi penyebab seseorang mudah <em>resign </em>dari perusahaan. Karenanya, HRD sering kali khawatir bahwa merekrut seorang ‘kutu loncat’ hanya akan menjadi tindakan yang sia-sia.</p>
<p>Untuk menepis kekhawatiran tersebut, Anda harus menunjukkan kepada pewawancara kemampuan beradaptasi Anda di perusahaan-perusahaan sebelumnya. Berikanlah bukti yang konkret mengenai seberapa cepat Anda belajar dan menguasai produk perusahaan. Jika ada, sampaikan juga prestasi yang pernah Anda capai selama bekerja di sana.</p>
<p>Perusahaan tidak ingin keberadaan Anda nantinya malah menghambat alur kerja karyawan lain. Oleh sebab itu, selain sebagai seorang <em>fast learner</em>, yakinkan juga pewawancara bahwa Anda tak pernah butuh waktu lama untuk menjadi <em>team player </em>yang baik, yang mampu mendongkrak performa tim secara keseluruhan.</p>
<p><strong>3. Beri tahu tujuan karier Anda</strong></p>
<p>“Berapa lama Anda akan bekerja di perusahaan ini?”</p>
<p>Pertanyaan di atas merupakan bagian dari strategi pewawancara untuk mengetahui apakah Anda hanya akan menjadikan perusahaan tersebut tempat singgah sesaat, atau Anda memang punya gambaran masa depan karier yang jelas di sana.</p>
<p>Sayangnya, sering kali pelamar terjebak dan langsung menyebutkan jumlah tahun yang pasti. Padahal, jawaban tersebut sama seperti menyiratkan rencana Anda untuk <em>resign</em>. Justru langkah tepat untuk membuat pewawancara yakin adalah dengan memberitahu tujuan karier Anda.</p>
<p>Anda, misanya, bisa menyampaikan bahwa suatu saat nanti Anda ingin menjadi spesialis sekaligus pimpinan IT di perusahaan tersebut. Bukan itu saja, jabarkan pula rencana dan proses yang akan Anda jalankan untuk sampai di posisi tersebut, serta bagaimana perusahaan bisa membantu Anda mewujudkannya. Artinya, selama perusahaan terus memberi tantangan baru, kesempatan belajar, serta jenjang karier, Anda akan tetap berada di sana.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://blog.id.jobplanet.com/panduan-wawancara-kerja-untuk-si-kutu-loncat/">Panduan Wawancara Kerja untuk Si Kutu Loncat</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://blog.id.jobplanet.com">Jobplanet Blog</a>.</p>
]]></content:encoded>
			</item>
	</channel>
</rss>
