Membangun Lingkungan Kerja yang Produktif

Oleh: Haryo Utomo Suryosumarto

Founder & Managing Director PT Headhunter Indonesia, perusahaan executive search yang mulai berdiri sejak Mei 2009. Lulusan S-1 di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada dan S-2 di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini menggabungkan pengetahuan praktis dan pengalaman profesionalnya di dunia HR selama lebih dari 16 tahun terakhir, untuk memberikan pencerahan berupa tips pengembangan karier melalui berbagai artikel serta workshop/seminar di kampus ataupun lingkungan korporasi.


 Artikel ini juga dapat dibaca di  beritagar-logo.

Hingga saat ini, masih banyak pemilik atau pemimpin perusahaan yang menekankan perlunya membangun kekompakan di dalam sebuah organisasi atau perusahaan. Namun, mereka mungkin belum mengetahui bahwa kekompakan sebetulnya dapat terbangun dengan sendirinya, tanpa ada campur tangan yang terlalu banyak dari pihak manajemen perusahaan.

Saya pribadi berpendapat bahwa kekompakan yang terbangun di dalam organisasi—baik itu sebuah tim, departemen, atau perusahaan—sebetulnya adalah akibat dari suatu kondisi. Untuk menciptakan kekompakan itu, pemilik atau pemimpin perusahaan perlu mengetahui terlebih dahulu faktor-faktor utama yang diperlukan untuk membangun sebuah lingkungan kerja yang produktif.

Berikut tiga faktor yang menjadi prasyarat utama lingkungan kerja yang produktif:

Tujuan yang sama. Dengan memiliki tujuan yang sama, maka seluruh anggota organisasi mau tidak mau dituntut untuk bisa bekerjasama dengan baik dan produktif, demi memudahkan pencapaian tujuan.

Komunikasi terbuka. Dasar utama dari sebuah relasi positif antarmanusia adalah komunikasi yang baik. Dalam sebuah organisasi, komunikasi yang baik bisa terbangun dengan melibatkan seluruh anggota organisasi, di mana mereka bisa bebas mengeluarkan pendapatnya secara terbuka, dan yakin bahwa pendapat tersebut akan dihargai.

Komitmen. Dua faktor di atas tidak mungkin bisa berjalan tanpa adanya komitmen yang sungguh-sungguh dari semua anggota organisasi. Komitmen dapat terbentuk dengan memastikan bahwa semua anggota mengetahui secara pasti apa yang diharapkan dari mereka, bentuk tanggung jawab apa yang diemban, dan bagaimana mereka mesti mencapainya.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, sebetulnya usaha menciptakan lingkungan kerja yang produktif itu menjadi tanggung jawab siapa? Apakah menjadi tanggung jawab manager? Atau menjadi tanggung jawab para staf?

Saya berkeyakinan manager dan para staf memiliki tanggung jawab untuk menciptakan lingkungan kerja yang produktif. Namun, mereka adalah pelaksana sebuah kebijakan. Kebijakan atau policy untuk mewujudkan lingkungan kerja yang produktif utamanya merupakan tanggung jawab pemilik atau pimpinan perusahaan.

Menarik juga untuk diketahui bahwa lingkungan kerja yang produktif, di mana terwujud kekompakan antaranggota organisasi itu sebetulnya merupakan hal yang tidak dapat dipaksakan, tapi dapat diciptakan.

Pemilik atau pemimpin perusahaan harus mengetahui secara pasti budaya kerja seperti apa yang ingin diciptakan dalam perusahaannya, nilai-nilai apa yang ingin ditanamkan dalam benak para karyawannya, visi perusahaan apa yang ingin dicapai, serta iklim kerja seperti apa yang bisa mendorong para karyawan untuk punya sense of belonging yang tinggi terhadap perusahaan.

Dari situlah para pemilik atau pemimpin perusahaan kemudian bisa mendapat gambaran lebih jelas mengenai karakter orang yang tepat untuk bekerja di perusahaannya. Karena, bagaimanapun juga, lebih mudah bagi seseorang untuk mengadopsi budaya atau nilai-nilai perusahaan bila budaya atau nilai-nilai tersebut memiliki kesamaan dengan kepribadian dan nilai-nilai individual yang dianutnya.

Kesimpulan yang bisa diambil dari tulisan sederhana ini sebetulnya bermuara pada proses rekrutmen yang baik dan benar. Rekrutmen sering dipandang sebagai hal paling sederhana dan kurang bergengsi dibandingkan dengan aspek-aspek HR atau SDM lainnya. Padahal, rekrutmen sebetulnya memegang peranan paling strategis dalam menentukan keberhasilan sebuah perusahaan, karena pada akhirnya kualitas manusia atau karyawanlah yang menjadi penentu kesuksesan perusahaan.

Oleh karena itu, pastikan bahwa Anda hanya akan merekrut orang-orang berkarakter baik, memiliki kualifikasi yang tepat, dan memiliki kesamaan nilai dan kultur dengan perusahaan Anda, karena dari orang-orang seperti itulah visi perusahaan Anda dapat lebih mudah tercapai.

Comments

comments