Fakta Menarik Seputar Kebiasaan Mahasiswa Eropa Sebelum Terjun ke Dunia Kerja

 Artikel ini juga dapat dibaca di  beritagar-logo.

Eropa merupakan sebuah benua yang terdiri dari banyak negara maju. Bukan hanya maju dalam hal infrastruktur, tapi juga pendidikan. Kemajuan di bidang pendidikan ini pun membawa pengaruh yang positif bagi kondisi ketenagakerjaannya. Hal ini pula yang membuat Eropa berhasil memikat para pelajar dari berbagai negara di benua lainnya untuk datang dan menuntut ilmu di sana.

Jika dibandingkan dengan Indonesia, ada beberapa kebiasaan berbeda yang dilakukan oleh mahasiswa di Eropa sebagai calon tenaga kerja. Nah, kali ini Jobplanet akan mengulas fakta menarik seputar kebiasaan mahasiswa Eropa sebelum terjun ke dunia kerja.

  1. Setelah lulus S1, langsung lanjut S2

Hal yang pertama kali dipikirkan oleh sebagian besar fresh graduate di Eropa bukanlah mencari pekerjaan, melainkan melanjutkan studi ke jenjang berikutnya. Di Eropa sendiri, lulusan S2 dikenal lebih bernilai dan lebih mudah mendapat pekerjaan dibandingkan lulusan S1. Tak heran jika melanjutkan studi ke jenjang S2 menjadi hal yang sangat umum dilakukan oleh mahasiswa di sana. Biasanya mereka mengambil S2 di universitas yang sama di mana mereka menempuh pendidikan S1.

  1. Wajib kuliah sambil kerja

Merupakan suatu kewajiban bagi mahasiswa Eropa untuk menjalani pekerjaan sampingan di sela-sela perkuliahan mereka. Pasalnya, mereka dituntut untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya secara mandiri. Bahkan, hampir semua mahasiswa di Eropa telah tinggal terpisah dari orang tuanya, sekalipun sebenarnya kediaman orang tua masih berada satu wilayah dengan kampus. Tentu saja budaya ini tidak hanya menjadikan lulusan-lulusan di sana siap bekerja di manapun, tapi juga lebih tangguh menghadapi kerasnya dunia profesional.

  1. Sudah biasa dengan kuliah atau pertukaran pelajar ke luar negeri

Di Indonesia, kita mungkin masih sering berdecak kagum melihat teman atau keluarga yang kuliah di luar negeri. Namun bagi mahasiswa Eropa, hal ini merupakan suatu hal yang biasa saja. Di setiap negara di Eropa, sering sekali ditemukan pelajar yang bukan merupakan warga asli negara tersebut. Budaya pertukaran pelajar (student exchange) tentu saja memberi banyak keuntungan bagi mereka. Pasalnya, selain bisa meningkatkan kemampuan bahasa asing dari hasil berinteraksi dengan pelajar atau penduduk lokal, pertukaran pelajar juga akan membuka wawasan dan pola pikir mereka akan keanekaragaman budaya di dunia.

  1. Banyak kesempatan kerja dan magang di luar negeri

Karena sebagian besar negara di Eropa menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa kedua, maka mudah bagi mahasiswa di sana untuk mengikuti kerja magang alias internship di luar negeri, tanpa takut terkendala masalah bahasa. Internship yang dilakukan bukan hanya antarnegara di Eropa saja, tapi hingga ke benua Amerika, bahkan Asia. Istilah “summer internship” digunakan oleh pelajar Eropa sebagai suatu kegiatan untuk mengisi waktu libur musim panas mereka di luar negeri. Begitu juga ketika lulus dan menjadi fresh graduate, banyaknya kesempatan yang terbuka membuat mereka tidak kesulitan mendapat pekerjaan di luar negeri.

  1. Relawan di negara berkembang

Menjadi relawan atau volunteer di negara berkembang menjadi salah satu hal yang dapat dibanggakan oleh pelajar Eropa. Selain karena memiliki nilai sosial yang tinggi, pelajar Eropa merasa bahwa melakukan aktivitas volunteer dapat memberikan banyak pengalaman dan manfaat untuk mereka. Pengalaman tersebut sangat berharga dan akan menjadi nilai lebih ketika mereka melamar kerja.

Perbedaan budaya pelajar di Eropa dan Indonesia memang cukup kontras. Namun demikian, bukan berarti mahasiswa dan lulusan universitas Indonesia tidak punya keahlian yang lebih baik atau kesempatan karier yang sama cemerlang. Sebagai calon pekerja, ada banyak cara untuk berhasil. Karena itulah Jobplanet hadir untuk membantu Anda meraih karier yang lebih baik, lewat beragam informasi bermanfaat seputar dunia kerja dan perusahaan.

Comments

comments