4 Tipe Kerja Magang, Mana yang (Pernah) Anda Jalani?

Magang kini menjadi salah satu tahap penting dalam perjalanan karier, dan dianjurkan bagi hampir seluruh mahasiswa tingkat akhir atau fresh graduate. Tujuan magang adalah untuk mempersiapkan mereka sebelum benar-benar menjadi seorang karyawan yang profesional. Meski demikian, sistem kerja magang di setiap instansi atau perusahaan tidaklah sama. Perbedaan ini pun memengaruhi praktik kerja dan ilmu yang didapat oleh peserta.

Bagi Anda yang pernah atau sedang menjalani kegiatan magang, tipe kerja magang manakah yang Anda lakoni?

  1. Produktif

Tipe kerja magang produktif memungkinkan para peserta magang untuk mendapatkan ilmu dan pengalaman yang berarti dari kegiatan magangnya. Dengan kata lain, mereka—terutama yang bidang kerja magangnya sesuai dengan jurusan kuliah—betul-betul mempraktikkan apa yang mereka pelajari secara teori di bangku kuliah. Mereka tentunya akan diajari dan dibimbing terlebih dahulu oleh para pegawai di kantornya, dengan harapan kontribusi mereka nantinya dapat ikut menunjang kinerja perusahaan.

  1. Tukang fotokopi dan membuat kopi

Tipe kerja magang yang satu ini sering menimbulkan dilema bagi para calon anak magang. Sebagai contoh, seorang peserta magang ditempatkan di Divisi Komunikasi. Namun, ia lebih sering ditugaskan untuk memfotokopi berkas, mengirimkan memo, dan bahkan membuatkan kopi untuk karyawan lain. Biar bagaimana pun juga, pekerjaan tersebut akan memberikan pengalaman bagi si anak magang. Namun, pengalaman yang ia dapatkan tak akan berdampak signifikan bagi perkembangan kariernya.

Memang ada beberapa perusahaan yang hanya memanfaatkan peserta magang untuk menjadi “tukang fotokopi” atau pembuat kopi. Oleh karena itu, calon peserta perlu mencari informasi yang cukup sebelum magang di suatu perusahaan, termasuk informasi tentang perusahaan serta job description yang akan dia kerjakan di sana. Jangan sampai menyesal karena ilmu yang diperoleh saat magang tidak bermanfaat bagi kariernya di masa depan.

  1. “Gabut” alias “gaji buta”

Magang untuk menjalani pekerjaan “gabut” tentunya tidak merepotkan si anak magang, karena perusahaan toh tetap menggajinya meski tak banyak tugas yang ia kerjakan. Meski demikian, tipe kerja seperti ini tidak akan memberikan hasil yang berarti untuk anak magang tersebut. Ongkos perjalanan pulang-pergi ke kantor serta makan siang setiap hari pun hanya akan terbuang sia-sia. Sama seperti poin sebelumnya, anak magang yang bekerja seperti ini tidak akan mendapatkan pengalaman bermanfaat serta informasi yang cukup tentang sistem kerja di perusahaan tempat ia magang.

  1. Dimanfaatkan

Status peserta magang memang kerap dicap sebagai posisi terendah di sebuah perusahaan. Melihat kedudukan itu, tak jarang ada anak magang yang “dimanfaatkan” secara tidak wajar. Porsi kerjanya bahkan melebihi pegawai lainnya. Semua hal harus ia kerjakan, termasuk membuat fotokopi dan surat, serta menyusun laporan. Yang lebih parahnya lagi jika perusahaan tempat ia magang tidak memberikan upah bagi pekerja magang.

 

Jika Anda sering membaca review perusahaan di Jobplanet, memang ada perusahaan yang memberikan upah bagi peserta magang, dan ada juga yang tidak. Upah memang bukan hal utama yang dicari oleh pekerja magang. Meski begitu, bukankah lebih baik jika mereka bisa memperoleh hal yang sebanding dengan pekerjaan yang mereka lakukan—yakni ilmu dan pengalaman berharga?

Setiap perusahaan menerapkan kebijakan yang berbeda-beda untuk anak magang. Hal ini akan mempengaruhi harapan serta cara mereka memperlakukan peserta magang di kantornya. Oleh karena itu, calon peserta magang perlu mencari tahu pengalaman magang di perusahaan manakah yang akan memberinya pengalaman terbaik, yang bermanfaat untuk masa depan kariernya.

Comments

comments