3 Alasan Pelamar Takut Melakukan Negosiasi Gaji

Takut Melakukan Negosiasi Gaji

 Artikel ini juga dapat dibaca di  beritagar-logo.

Perjalanan yang harus dilalui para pencari kerja hingga mendapat pekerjaan impian sering kali berliku-liku. Mulai dari CV yang berkali-kali ditolak, sering gagal dalam psikotes, hingga wawancara kerja yang berjalan buruk kerap menimbulkan rasa cemas dan takut sepanjang proses recruitment. Tak berhenti di situ, ketakutan mereka bahkan masih harus berlanjut hingga sesi negosiasi gaji.

Tahap satu ini memang tak boleh disepelekan. Hanya karena salah nego, perusahaan yang sudah tertarik untuk mempekerjakan Anda bisa jadi berubah pikiran. Nah, berikut ini tiga alasan mengapa pelamar takut melakukan negosiasi gaji:

1. Tidak tahu nilai pasaran

Kalau Anda sudah punya pengalaman kerja, sesi negosiasi gaji tentu bukan hal yang baru lagi. Anda juga lebih siap jika harus menghadapinya kembali karena sudah punya nilai yang bisa dijadikan acuan, yakni gaji Anda saat ini serta nilai pasaran, yang informasinya bisa Anda peroleh dari rekan-rekan seprofesi atau dari situs Jobplanet.

Namun, bayangkan jika Anda baru lulus kuliah. Sebagai fresh graduate, tentu Anda tak tahu berapa nilai yang layak untuk Anda sebagai karyawan baru. Jika memikirkan kemauan pribadi, semua orang pasti ingin digaji setinggi mungkin. Sayangnya, menyadari pengalaman yang masih nol, banyak fresh graduate yang takut salah negosiasi, hingga akhirnya memilih pasrah dengan gaji berapa pun.

2. Kurang pandai tawar-menawar

Pelamar dengan latar belakang di bidang sales umumnya tergolong sosok negosiator yang andal. Bagi mereka, perihal tawar-menawar mungkin sudah jadi makanan sehari-hari, baik saat bertransaksi di tempat perbelanjaan atau dengan calon pembelinya. Nah, yang membedakan kali ini ‘produk’ yang dinegosiasikan adalah dirinya sendiri. Tipe pelamar ini bukan cuma sadar apa keunggulannya, tapi juga mampu menjadikannya senjata untuk mempersuasi HRD yang sedang mempertimbangkan gajinya.

Hal sebaliknya terjadi pada orang-orang yang kurang piawai dalam tawar-menawar. Mereka cenderung lebih gugup, bahkan sekalipun modal skill dan prestasi yang luar biasa ada di tangannya.

3. Berpikir berlebihan

Anda sering overthinking alias berpikir berlebihan? Kebiasaan satu ini sebetulnya bisa membawa pengaruh positif, tapi tak jarang juga jadi kendala pada saat negosiasi gaji. Anda mungkin sudah tahu berapa nominal yang diharapkan, namun di saat yang sama ada rasa takut, “bagaimana kalau permintaan saya terlalu muluk-muluk?” atau “bagaimana kalau sebenarnya nilai jual saya lebih rendah?” Di sisi lain, ada kekhawatiran jika Anda menurunkan standar, Anda akan menyesali nilai yang Anda minta karena ternyata jauh di bawah rata-rata.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa sekadar mengetahui nilai pasaran dan punya kualifikasi yang dicari perusahaan saja tidaklah cukup. Anda juga harus percaya diri serta punya keinginan kuat untuk memperjuangkan hak Anda.

Selama kepercayaan diri Anda sebagai calon karyawan memang beralasan, tak ada yang perlu Anda takutkan dari sesi negosiasi gaji. Tanamkanlah dalam pikiran bahwa bukan cuma Anda yang butuh pekerjaan tersebut, tapi perusahaan juga membutuhkan Anda.

Comments

comments